Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Fenomena Asmara Subuh

Senin, 15 Juli 2013
Sebagaimana tempat, dimensi waktu pun bisa menjadi sarana yang efektif dalam menghantarkan seorang hamba meraih keutamaan di sisi Allah. Bukankah shalat-yang menjadi wahana paling khusyuk dalam beraudiensi dengan-Nya-ditandai dengan waktu? Dalam Kitab-Nya, Allah juga sering menggugah kita dengan ungkapan waktu, termasuk waktu subuh.

Kompleksnya peradaban manusia sekarang menjadikan urgennya waktu subuh, yaitu saat udara masih segar, sejuk, dan pikiran masih jernih. Alam yang tadinya mengantuk, perlahan-lahan bangun dan kembali membentangkan karunianya. Di sinilah pentingnya arti bangun pagi; ia bukan hanya memberikan manfaat dari sisi kesehatan, melainkan juga bisa bermakna finansial dan spiritual.

Namun sepakatkah kita menghargai waktu subuh..???.

Sudah menjadi tradisi, sehabis salat Subuh di bulan Ramadan puluhan remaja di berbagai daerah termasuk Ibu Kota dan ditempat tinggalku Bantaeng Butta Toa mengambil kesempatan untuk jalan-jalan bersama teman wanita atau pria. Kegiatan itu biasa disebut dengan istilah Asmara Subuh.

Pakar sejarah UIN Jakarta, Muhammad Arif mengatakan tradisi ini bermula dari para remaja yang bermaksud mencari kearifan dari alam namun semakin mengikuti zaman tradisi itu kerap mengarah negatif. Sebab, saat ini banyak faktor negatif yang mempengaruhi asmara subuh ini.

"Secara empiris, agak masif ya karena kegiatan ini ikut dicampuri dengan geng motor, itu yang membuat asmara subuh dikenal negatif," ujar Arif saat dihubungi.

Menurut Arif, asal muasal tradisi ini ada dan berkembang di beberapa tempat lantaran para remaja tersebut ingin menemukan jati diri atau karakter mereka. Semisal dengan mencari teman, berkumpul dengan teman lainnya sehingga membentuk proses individualisasi mereka.

"Faktor psikologis lah yang mempengaruhi mereka, namanya remaja ingin tahu segala hal. Biasanya mereka ini mulai dari SMP hingga SMA. Sehingga perkumpulan mereka ini menjadi daya tarik bagi temannya juga, makalah berkembang fenomena ini," jelas dia.
Dia mengimbau, semua pihak dapat turut andil dalam menentukan arah jati diri para remaja ini. Jangan sampai asmara subuh menjadi tempat bagi remaja menuju kesesatan. "Baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat harus berperan aktif dan mempunyai kesadaran kolektif secara bersinergi agar nantinya remaja tersebut dapat diarahkan," ungkapnya.

Di sisi lain, faktor pendidikan juga amat penting. Arif menyarankan untuk menggunakan konsep revitalisasi pusat pendidikan. Di mana melalui konsep ini, para remaja di intensifikasi secara maksimal. "Dengan acara seminar, itu juga salah satu contohnya sehingga dapat mengkaji asmara subuh ini baik secara unformal, formal dan sekitar," ujar dia. (mrc/ARS)

Sumber

Alquran Raksasa 200 kg Bertinta Emas di Solo

Minggu, 14 Juli 2013
Sebuah Alquran berukuran besar dengan panjang 150 cm, lebar 250 cm dan tebal mencapai 30 cm serta berat sekitar 200 kilogram terpampang di Masjid Fatimah, Jalan Dr Radjiman, Solo, Jawa Tengah. Uniknya, Alquran langka yang telah berusia ratusan tahun tersebut, seluruh hurufnya ditulis dengan bahan mirip kertas semen serta prada atau tinta emas. Sementara covernya terbuat dari kulit unta, yang didatangkan khusus dari Arab Saudi.

Konon kabarnya Alquran ini merupakan warisan dari seorang pengusaha di Solo dan telah dibuat pada zaman pemerintahan Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Pakubuwono X, atau sekitar tahun 1800.

Imam masjid Fatimah, M Husni Thamrin mengatakan Alquran tersebut ada sejak masjid milik keluarga Danarhadi itu diresmikan pada tahun 2004 lalu.

"Alquran ini hadiah dari seorang sahabat, yang juga memberikan wakaf masjid ini, yaitu keluarga Batik Danarhadi. Ini sebuah kebanggaan, walaupun sehari-harinya tetap kita simpan, dengan bungkus plastik," ujar Thamrin kepada merdeka.com, Minggu (14/7).

Thamrin menuturkan, Alquran tua tersebut selalu disimpan pada hari-hari biasa. Namun saat Ramadan, selalu dipajang di bagian dalam masjid Fatimah.

Meski telah berusia ratusan tahun, bukan berarti Alquran ini hanya sebagai barang pajangan. Setiap hari terutama menjelang waktu berbuka puasa, Alquran ini selalu dibaca. Ukuran hurufnya yang memang besar memudahkan bagi siapa saja untuk membaca ayat-ayat di dalamnya meski mereka harus berdiri.

"Berdasarkan penelitian tim yang kami bentuk, dibantu Hafidz Quran dari Masjid Agung Keraton, Alquran ini sebenarnya lengkap isinya. Ada 30 juzz, 114 surat dan 6666 ayat. Hanya saja perlu disisipi, kalau akan menjadi Alquran secara utuh, karena dari penulis kurang sempurna di waktu itu," terangnya.

Mengenai siapa penulisnya dan tahun pembuatannya, Thamrin menambahkan, pihaknya masih melakukan penelitian. Yang pasti, kepada siapapun yang ingin melihat atau membaca Alquran ini, Thamrin mempersilakan datang ke Masjid Fatimah, di Jalan Dr Radjiman, Singosaren, Solo.

[tts]


Reporter : Arie Sunaryo
Sumber: merdeka.com
 

Diary Sang Angin Copyright © 2013 | Powered by Blogger